“kamu kenapa sih,Re?” Sinta tidak menyerah menunggu jawabnya.
Tapi yang didapat bukanlah jawabnya,hanya gelengan kepala yang disertai raut wajah begitu duka dan murung. Tere semakin sedih! Sinta makin bingung dan tak mengerti dengan yang sesungguhnya terjadi dengan sahabatnya itu.
“Re, kalau kamu tidak mau bicara, bagaimana aku dapat membantumu?” Sinta mencoba merangkul Tere, tapi Tere justru menghindar.
“Jangan mendekatiku,Sin nanti kamu bias menyesal memiliki sahabat sepertiku.” Bantah Tere seraya terus menghindar.
“Menyesal? Emang apa yang kamu lakukan? Adakah kau membohongiku?” Sinta berubah raut begitu mendengar suara sahabatnya yang begitu meyakinkan. Tere tidak menjawab pertanyaan Sinta, dia justru meninggalkan Sinta dengan beribu pertanyaan. Sinta berusaha mengejar. Namun Tere telah mask ke mobilnya. Pak sopir segera membawanya berlalu dari hadapan Sinta yang tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
“Sinta.” Sinta menoleh kearah suara yang memanggilnya. Suara Raffi.
“kamu kenapa, Sin? Sedang bertengkar dengan Tere?” Raffi tak dapat menyembunyikan keingintahuannya karena melihat peristiwa yang baru saja terjadi.
”nggak tahu, Fi. Tere seperti menyimpan suatu masalah.”
”Apa karena surat yang kemarin aku kirimkan ya, Sin?”
Kini gantian Sinta yang terbelalak mendengar perkataan Raffi.
”surat apaan,fi?” Sinta bertanya binggung.
”Aku menyukai Tere, Sin.” Raffi menjawab dengan wajah menunduk.
”Jadi....?” Sinta urung mengatakan apa yang saat itu terlintas dalam pikirannya.
”Tapi ku rasa bukan, Fi. Tere tak pernah mengatakan apa-apa tentang suratmu. Tadi dia Cuma bilang ”jangan mendekatiku Sin, nanti kamu bisa menyesal memiliki sahabat sepertiku.” Lalu dia pergi meninggalkan aku Sendiri.”
Mereka terdiam,hening...sunyi...masing-masing dengan pikirannya.
”Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Tere.”
*****
Sejak peristiwa itu. Tere tak pernah lagi bersama Sinta. Hari ini adalah hari ke-tujuh Tere menghindar saat di kelas ataupun di sekitar kawasan sekolah. Sinta dan Raffi telah berusaha menemui Tere dirumahnya. Tapi selalu saja mendapat jawaban, ”Tere tidak ada di rumah.” Hp Tere pun setiap Sinta hubungi selalu saja tidak aktif atau tidak terjawab.
”Tere kenapa ya, Fi?”
”Entahlah, Sin, aku juga bingung.” lalu mereka bersama lagi-lagi terdiam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Hp Sinta berdering. Ada pesan masuk.
”dari siapa, Sin?” Raffi ingin tahu dan berharap pesan itu dari merupakan pesan dari Tere. Dan ternyata Benar.
”Tere.”
”Apa katanya?” Raffi tak sabar.
”Dia ingin bertemu denganku malam ini,Fi .Di tempat biasa kami hang-out.”
”Aku boleh ikut?” Raffi memelas dengan penuh Harap.
”Jangan saat ini.... Apalagi dengan kondisi yang begitu tak dimengerti... nanti pasti aku kabarin apapun yang terjadi dengan Tere. Suer...”
”baiklah, salam untuk Tere ya, Sin.”
“Tentu.”
*****
Malam itu di kafe tempat biasa Sinta dan Tere hang-out.
”Aku harus jujur padamu, Sin.” Tere mengatakan dengan raut wajah sedih, ragu, dan tampak menyesal.
”kenapa, Re?” Sinta agak kaget dengan pertanyaannya sendiri. Harusnya dia tanya Apa yang ditutupi darinya dan salah apa yang dilakukan Tere, sampai Tere sebegitu sedih dan menyesal.
Dilihatnya sahabatnya itu sedang terisak sedih.
”jangan...jangan dekati dan menjauhlah, Sin! Aku bukan sahabat yang baik.”
”Aduuh... kamu kenapa,Re??? Kayaknya hubungan kita selama ini baik-baik aja. Kamu juga tidak berbuat salah padaku. Jangan buat aku penasaran,deh... tuh Raffi juga ikutan penasaran dan panik dengan keadaan kamu.”
Rasa penasaran Sinta dan bingung bercampur menjadi satu. Apa selama ini Sinta melakukan hal yang begitu menyakiti sahabatnya itu. Sehingga Tere berbicara seperti itu. Mungkin memang belakangan ini Sinta sering memarahi Tere. Tapi dengan maksud yang baik.
”Re, apakah kamu tidak mau mengatakan semua padaku.” Sinta bertanya lagi.
” aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya. Tapi kamu janji tidak akan memarahiku apalagi memusuhiku, ya.”
”marah dan memusuhi bagaimana?”
Tere terdiam, dan dari wajahnya tampak keraguan yang luar biasa. Panik, takut, ragu dan sebagainya. Lalu...
”Aku sayang banget dengan Raffi, Sin.” Tere mengatakannya dengan suara yang sangat pelan dan tidak jelas.
Sinta tak mampu menahan emosi, tapi melihat wajah sahabatnya yang begitu sedih. Sinta mampu mengontrol Emosinya seketika.
”Maafin aku, Sin.” suara Tere Lemah.
”maaf....aku tidak akan memarahimu. Kupikir kamu buat kesalahan yang berat apa.....”
Setelah suasana Reda. Tere menceritakan kenapa dia bisa menyukai Raffi.
”Beberapa waktu yang lalu. Niatku hendak nyomblangin kamu dan Raffi. Tiap-tiap hari aku melakukan pendekatan padanya untuk menyatukan kalian. Raffi itu baik, pengertian, perhatian, dewasa dan keren banget... aku senang sekali dan merasa nyaman berada disisinya. Sampai tiap malam aku bermimpi tentangnya. Eh.... ternyata... aku jadi suka dan sayang banget dengan Raffi. Aku sudah berusaha segala cara untuk tidak menyukainya dan menjauhinya. Tapi tetap tidak bisa. Aku bingung. Karena aku tahu kamu juga amat menyukai Raffi. Sementara perasaan kita sama. Aku takut kamu marah dan menjauhiku. Dan jalan terbaik adalah aku mengakui semua. Siap atau tidak aku akan sedia menerima semua resiko.”
Sinta mendengarkan cerita sahabatnya dengan penuh perhatian. Dia merasa sahabatnya begitu sedih dan bingung.
“ ya sudah... kalau kamu memang menyukai Raffi. Terima saja cintanya. Itiung-itung buat jadi pacar pertama. Kan kamu belum pernah pacaran.” kata Sinta.
”Tapi kamu?”
”nggak usah dipusingkan... aku sudah tak menyukai Raffi lagi. Dan saat ini target utamaku siswa baru di kelas sebelah. Aku setuju kok dengan hubungan kalian.”
*****
”Tere??” Damar. Siswa baru kelas sebelah yang keren dan paling banyak diincar cewek-cewek di sekolah menyapa Tere dengan sikap lembut dan senyum penuh pesona... itu tidak seperti biasanya... malah Tere tidak menyangka kalau Damar mengenalinya.
”Tere...mau nolongin aku nggak?? Comblangin aku dengan sahabatmu, Sinta donk!! Aku suka banget dari pertama kalinya aku melihat Sinta.” begitu ungkap Damar.
”Beres.”
Di ujung koridor sekolah. Tere melihat Sinta dan Damar sedang melakukan pendekatan. Tere hanya tersenyum. Di lain sisi Tere melihat Raffi. Ketika merela telah berdekatan, cowok keren satu ini berkata pelan padanya...”mmm....soal surat cintaku itu, kamu mau kan nerima cintaku?”
*****
Terlihat raut wajah bahagia antara Sinta dan Damar. Juga Tere dan Raffi. Dalam menjalani dan menempuh Lembar baru dengan pasangan mereka masing-masing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar